Rabu, 28 Juli 2010

Habib Ali Alhabsyi, Ulama, Pejuang, dan Pendidik dari Betawi

Memasuki kawasan Kwitang, Jakarta Pusat, jangan coba-coba menaiki kendaraan tiap Ahad pagi. Selesai shalat Subuh, di daerah ini, terutama di Jalan Kramat II dan sekitarnya, ribuan manusia berbondong-bondong mendatangi Majelis Taklim Habib Ali Alhabsyi yang terletak di jalan tersebut. Para pendatang yang ingin mendengar ceramah dari para ulama, harus bersusah payah dan berdesak-desakan untuk mendapat tempat di majelis tersebut. Sebagian besar dari mereka tak mendapatkan tempat di dekat mimbar (panggung). Mereka datang dari berbagai kota di Jabodetabek dan kota lainnya.

Tak hanya mereka yang ingin mendengarkan ceramah, para pedagang juga turut memadati area Kwitang. Tak heran, jalan yang tak terlalu lebar itu semakin sempit dan sesak. Tak kurang dari 100 pedagang yang menjual aneka kebutuhan pengunjung. Sepanjang jalan dari ujung Kramat Raya hingga lokasi majelis taklim ini yang berjarak sekitar 700 meter itu penuh sesak dengan lautan manusia. Begitu juga dengan daerah seputar Ciliwung yang dipenuhi dengan tenda-tenda pedagang, sejak Sabtu sore.

Membludaknya pengunjung di majelis taklim Kwitang ini tidak dapat dipisahkan dari pengaruh pendirinya, yakni Habib Ali bin Abdurahman Alhabsyi, seorang ulama kelahiran Betawi.Sebelum majelis taklim di buka tiap Ahad pukul 08.00 pagi, para pengunjung terlebih dahulu berziarah ke makam sang habib di Majelis Al-Riyadh, Kwitang. Majelis taklim ini dibangun pada 1910 M (masehi) dari sebuah mushala kecil. Di kompleks makam itu, ratusan peziarah membaca surah Yasin dan berdoa untuk almarhum.
Habib Ali Alhabsyi dilahirkan pada 1286 Hijriyah (1869 Masehi) di Kwitang. Ayahnya, Habib Abdurahman bin Abdullah Alhabsyi, adalah seorang ulama yang lahir di Petak Sembilan, Semarang (Jateng), yang kemudian tinggal di Jakarta (Betawi). Di Betawi, Habib Abdurrahman menikah dengan seorang puteri ulama kelahiran Meester Cornelis (Jatinegara) bernama Nyi Salmah. Pada tahun 1296 Hijriyah (1879 M), Habib Abdurrahman meninggal dunia ketika Habib Ali berusia 10 tahun.

Jenazahnya dimakamkan di dekat kediaman Raden Saleh yang bersebelahan dengan Taman Ismail Marzuki (TIM) sekarang ini. Pelukis tenar yang punya nama di dunia internasional ini merupakan kemenakan ayah Habib Ali, sama-sama kelahiran Semarang.

Sebelum meninggal, Habib Abdurahman telah berwasiat kepada istrinya, Nyi Salmah, agar putranya (Habib Ali–Red) disekolahkan ke Hadramaut dan Makkah. Kala itu, untuk mendapatkan pendidikan agama, orang Betawi banyak menyekolahkan putra-putrinya ke Timur Tengah. Kebiasaan ini terus berlangsung sampai kini.

Sesuai dengan pesan almarhum suaminya, Nyi Salmah pun menyekolahkan putranya ke Hadramaut. Selama lima tahun (1881-1886), Habib Ali berguru pada sejumlah ulama. Sebagai remaja yang haus akan ilmu, Habib Ali juga menempuh pendidikan di kota suci Makkah. Sekembali ke Indonesia, semangatnya untuk belajar terus menyala-nyala. Dia berguru dengan sejumlah ulama di Jakarta, termasuk Habib Usman Bin Yahya, mufti Betawi.

Ketika terjadi pembantaian besar-besaran terhadap kaum Muslim di Tripoli, Libya, oleh Italia yang menjajah negeri itu, berita tidak berkemanusiaan ini pun sampai ke Jakarta. Banyak protes dari umat Islam, terutama melalui masjid-masjid. Dia pun diminta oleh gurunya, Habib Usman, di Masjid Pekojan, Jakarta Barat, berpidato untuk mengobarkan semangat kaum Muslim sebagai solidaritas terhadap saudaranya di Libya. Sejumlah tokoh Syarikat Islam (SI), seperti HOS Tjokroaminoto dan Haji Agus Salim, berperan besar dalam menggerakkan solidaritas umat Islam Indonesia. Mereka mencetuskan agar produk-produk Italia yang ada di Indonesia untuk diboikot. Di samping memboikot mobil Fiat, mereka juga membakar peci stambul buatan Italia yang banyak digunakan ketika itu.

Perjuangan kaum Muslim di Libya melawan penjajahan Italia ini dipimpin oleh Omar Mukhtar. Peristiwa ini telah difilmkan oleh Hollywood dengan judul Lion of the Desert (Singa Padang Pasir) yang diperankan oleh Anthony Quinn sebagai Omar Mukhtar.

Majelis taklim Kwitang didirikannya pada 1911. Dengan cepat, majelisnya didatangi banyak pengunjung, termasuk dari daerah-daerah pinggiran, seperti Ciputat, Condet, hingga Depok. Karena kendaraan bus kota belum ada kala itu, murid-muridnya berdatangan dengan naik kereta api dan sebagian besar menggunakan delman.

Di samping tasuwir (istilah untuk berpidato ketika itu), ia juga membuat beberapa kitab, seperti Al-Azhar al-Wardiyah (mengenai akhlak Nabi) dan Addurar Fi al-Shalawat al-Khair al-Bariyah (buku shalawat Nabi). Dia juga menggunakan kitab kuning karangan Habib Abdullah bin Alwi Alhadad, seorang ulama Hadramaut yang hidup sekitar 300 tahun lalu, yang mengarang Eatib Haddad yang masyhur itu.

Sebagai ulama yang dikenal luas, Habib Ali berdakwah di hampir seluruh tempat di Tanah Air. Dia juga memiliki banyak murid di Singapura dan Malaysia. Di samping itu, ia juga telah berkeliling ke berbagai negara, seperti Pakistan, India, Kolombo, dan Mesir.

Pendidikan Islam modern

Waktu itu, pendidikan agama lebih banyak dilakukan di rumah-rumah yang disebut ‘pengajian’ secara tradisional. Habib Ali merasa tertantang untuk membangun perguruan Islam modern. Maka, pada 1911, berdirilah Unwanul Falah yang letaknya di samping Masjid Kwitang. Pengajarannya dengan sistem modern, yaitu adanya pembagian kelas. Karena itulah, banyak orang yang mengakui bahwa Habib Ali adalah guru para ulama Betawi. Puluhan ulama terkenal pernah menjadi murid di Unwanul Falah yang juga terbuka untuk murid-murid wanita.

Sekitar 300 meter dari majelis taklim, terletak Masjid Djami Kwitang (Ar-Riyadh). Pada tahun 1910, masjid ini semula sebuah mushala kecil. Dengan usaha Habib Ali, pada 1918 surau itu mengalami pembaharuan pertama berupa masjid dengan ruang depannya sebagai madrasah. Madrasah ini dinamakan Unwanul Falah. Kemudian, madrasah ini dipisahkan dari masjid menjadi dua buah sekolah untuk pria dan wanita. Tanah tersebut diwakafkan pemiliknya, Al-Kaff.

Pada 1963, saat Habib Ali berusia lanjut, melalui putranya, Habib Muhammad, masjid diperluas untuk ketiga kalinya. Untuk itu, Habib Ali mengundang sejumlah tokoh Islam dan para ulama terkemuka. Ketika masjid diperluas untuk ketiga kalinya ini, ribuan jamaah secara sukarela bekerja bakti melaksanakannya. Pada akhir 1990-an, menantunya, Habib Said Mahdali, pun mempercantik masjid tersebut hingga saat ini.

Tahun 1960-an, ketika masjid Kwitang direnovasi, jumlah masjid tidak sebanyak sekarang. Letaknya pun di kampung-kampung. Sementara itu, gereja-gereja terletak di tepi jalan-jalan raya. Jumlah masjid mulai banyak dan tersebar di segenap tempat setelah terjadinya pemberontakan G30S/PKI. Masyarakat makin yakin untuk melawan pengaruh komunis. Masjid pun dianggap sebagai tempat pergerakan umat.

Beberapa murid beliau adalah pemimpin Majelis Taklim Asyafiiyah, KH Abdullah Syafei, dan pemimpin Majelis Taklim Tahiriyah, KH Tohir Rohili. Sejumlah ulama Betawi lainnya yang pernah berguru kepadanya dan membuka majelis taklim adalah KH Abdulrazak Makmun dan KH Zayadi. Tidak hanya menganggap mereka sebagai murid-muridnya, Habib Ali juga memperlakukan mereka seperti kerabat sendiri. Dia sering mendatangi mereka di kediamannya. Di majelis taklimnya, mereka selalu diberi kesempatan untuk berpidato. Kemudian, bergabung pula Habib Salim bin Djindan yang terkenal dengan pidato-pidatonya yang berapi-api. alwi shahab

Begitu Besar Cintanya pada Rasulullah

Sambil duduk di kursi dan memakai jubah serta berserban putih–layaknya Pangeran Diponengoro ketika memproklamirkan perlawanan terhadap Belanda–Habib Ali Alhabsyi dengan suara lembut mengajak ribuan jamaah di majelisnya untuk meniru akhlak Nabi Muhammad SAW. Ketika menceritakan akhlak dan perjuangan Rasulullah SAW, Habib Ali sering menangis karena rasa cintanya pada junjungan umat tersebut. Bila sudah demikian, hadirin pun akan segera bershalawat untuk Rasulullah SAW.

Dalam meneladani akhlakul karimah sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah, Habib Ali dan penerusnya senantiasa mengajak umat untuk mempererat hubungan silaturahim dan persaudaraan serta menjauhkan diri dari ideologi kebencian, hasut, dengki, ghibah, fitnah, dan namimah.

Seperti juga majelis taklim, maulid di Kwitang termasuk maulid yang tertua di Jakarta dengan membaca kitab Simtud Duror, karangan ulama Hadramaut, Habib Ali bin Muhammad Alhabsyi. Dia adalah guru dari Habib Ali Kwitang ketika belajar di Arab Selatan itu. Habib Ali telah menyelenggarakan maulid sebanyak 51 kali atas wasiat almarhum gurunya. Diteruskan oleh Habib Muhammad sebanyak 26 kali dan Habib Abdurahman selama 16 tahun.
Habib Ali yang meninggal dalam usia 99 tahun pada hitungan Masehi atau 103 tahun pada hitungan Hijriyah tidak pernah menyinggung masalah furu’iyah (cabang ilmu fikih). Dia menganggap, agama perlu diamalkan, bukan untuk diperdebatkan, apalagi saling memusuhi sesama kaum Muslim. Banyak yang mengatakan, inilah sebabnya majelis taklim Kwitang bertahan hampir satu abad. Sampai kini, majelis taklim di Kwitang ini telah memasuki generasi ketiga setelah Habib Ali. Disusul oleh putranya Habib Muhammad dan cucunya Habib Abdurahman. Putra Habib Abdurahman, yang juga bernama Habib Ali, tengah dipersiapkan untuk menjadi penerus di majelis taklim ini sebagai generasi keempat. Dia seorang sarjana komputer dan kini telah mendalami ilmu agama di Hadramaut, sebagaimana pernah dilakukan buyutnya, Habib Ali bin Abdurrahman Alhabsyi.

Majelis Taklim Habib Ali dan maulid tiap akhir Kamis bulan Rabiulawal tidak pernah sunyi didatangi pejabat negara. Mulai dari masa Bung Karno, yang menurut Habib Abdurahman telah mengenal baik kakeknya sebelum kemerdekaan. Pada tahun 1963, rencananya Bung Karno akan datang kembali, tapi karena berbagai faktor, yang mewakilinya pada peringatan maulid kala itu adalah PM Djuanda. Tahun 1965, ketika berlangsung Konferensi Islam Asia Afrika (KIAA), para tamu dan kepala negara pun diantar menko KASAB Jenderal AH Nasution berkunjung ke majelis taklim Kwitang. Pimpinan Liga Muslimin Sedunia ketika ke Indonesia juga berkunjung ke majelis taklim Kwitang. Demikian pula dengan Pak Harto, Pak Habibie, Gus Dur, dan SBY yang sudah mengunjungi majelis ini.

Hindari perbedaan

Ketika tahun 1950-an dan 1960-an, situasi politik tengah memanas, ditambah lagi masih kerasnya perbedaan khilafiyah. Habib Ali dan ulama-ulama Betawi pun memaknainya hanya sebagai sebuah pendapat. Karena itu, Habib Ali tak mau membesar-besarkan perbedaan, apalagi berbeda dalam masalah khilafiyah.

Majelisnya itu terbuka untuk semua golongan. Tidak heran kalau majelisnya kerap didatangi oleh orang-orang Muhammadiyah. Bahkan, KH Abdullah Salim, pimpinan Masjid Al-Azhar di Kebayoran Baru, sering datang ke majelisnya. Dan, selalu diberikan kesempatan untuk berpidato oleh Habib Ali.

Ada hal menarik pada pemilu pertama tahun 1955. Ketika itu, NU baru saja memisahkan diri dari Masyumi dan membentuk partai sendiri. Dalam masa kampanye itu, Habib Ali tidak menampakkan diri berpihak pada salah satu partai dan tidak mengemukakan pilihannya secara terbuka meski lebih dekat kepada Partai NU. Sedangkan, murid dan pengikut setianya, KH Abdullah Syafei, yang saat itu masih muda dan gagah justru menjadi aktivis dan tokoh Masyumi. Perbedaan partai ini tidak berdampak sedikit pun terhadap hubungan akrab antara guru dan murid.

Sumber : http://dunia.pelajar-islam.or.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar